Langsung ke konten utama

review jurnal farmasi

REVIEW JURNAL

Judul
Evaluasi Kerasionalan Penggunaan Antibiotika pada Pengobatan Pneumonia Anak di Instalasi Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2013

Jurnal
Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT

Volume dan Halaman
Vol. 3 No. 3 Hal. 247-254

Tahun
2014

Penulis
Pingkan C. Kaparang, Heedy Tjitrosantoso, dan Paulina V. Y. Yamlean

Reviewer
Puji Sri Lestari (F1F115011)

Tanggal
19 April 2016


Tujuan
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis kombinasi antibiotik yang efisien untuk digunakan oleh penderita pneumonia anak berdasarkan kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada kriteria tepat dosis dan tepat lama pemberian.

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, pada bulan Februari sampai Juni 2014.

Jenis Penelitian
Penelitian  ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yang didasarkan pada catatan medis.

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ialah semua catatan medik pasien pneumonia anak yang dirawat inap dan mendapat pengobatan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari sampai 31 Desember 2013. Jumlah populasi yang didapat sebanyak 129 pasien. Sampel dalam penelitian ini ialah catatan medik terpilih dari populasi yang memenuhi kriteria penelitian. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 53 pasien.

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dimulai dengan penelusuran data dari laporan unit rekam medik untuk pasien anak dengan diagnosis pneumonia yang dirawat inap periode 1 Januari sampai 31 Desember 2013. Data yang diambil dibuat dalam tabulasi yang meliputi nomor rekam medik, umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosis, terapi antibiotika, cara pemberian, dosis, lama penggunaan, dan kondisi pulang.

Hasil
Pneumonia lebih sering  terjadi pada anak laki-laki berusia kurang dari 6 tahun
Anak dengan kelompok usia kurang dari lima tahun rentan mengalami pneumonia berat
Anak penderita pneumonia memiliki potensi sembuh yang tinggi bila diberi terapi antibiotik
Terapi antibiotika disertai dengan pengobatan lanjutan yang terbanyak ialah ampisilin-kloramfenikol dengan sefiksim
Jenis antibiotika yang diberikan pada pasien dengan dosis yang tidak sesuai dengan standar, yakni gentamisin, kloramfenikol, sefotaksim, amoksisilin dan seftriakson.


Kekuatan Penelitian
Menggunakan dasar teori yang tepat
Hasil diuraikan secara rinci

Kelemahan Penelitian
Banyak menggunakan referensi anonim
Pada metodologi penelitian tidak diuraikan bahan yang digunakan serta tahap-tahap dari penyiapan bahan dan pemberian antibiotik kepada pasien

Kesimpulan
Secara garis besar, hasil penelitian sudah diuraikan dengan jelas untuk memenuhi tujuan penelitian, hanya saja masih perlu dijelaskan dengan transparan tentang langkah yang digunakan dalam penelitian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenotiazin dan Turunannya

FENOTIAZIN A. Fenotiazin sebagai antihistamin Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihatdari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugus anetilamin ini sering kali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur siklik, misalnya antazolin. Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamine seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau ”competitive  inhibition”. Obat-obat ini pun tidak menghalang-halangi pembentukan histamine pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamine kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistamin...

Antihistamin: antagonis H1

ANTIHISTAMIN: ANTAGONIS H1 Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihatdari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugus anetilamin ini sering kali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur siklik, misalnya antazolin. Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamine seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau ”competitive  inhibition”. Obat-obat ini pun tidak menghalang-halangi pembentukan histamine pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamine kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistaminic mengikat diri...