Langsung ke konten utama

Analgetik, Farmakologi dan Hubungan Struktur-Aktivitas


ANALGETIK adalah istilah yang di gunakan untuk menyebut sejenis obat yang dibuat untuk menghilangkan rasa sakit/nyeri tanpa harus membuat si penderita tak sadarkan diri.  Analgesik berasal dari bahasa yunani 'Algos' yang artinya sakit. Yang kemudian di beri awalan 'AN' didepannya yang artinya tanpa. Sehingga jika di satukan, menjadi kata Analgesik yang artinya tanpa rasa sakit.

Analgesik biasanya di berikan pada mereka yang menderita nyeri atau sakit di bagian tertentu dari tubuh. Rasa sakit yang terlalu akan sangat mengganggu dan membuat si penderita merasa tidak nyaman.
Analgesik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik atau pereda nyeri.

Mekanisme Terjadinya Nyeri
Nyeri sebenarnya adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh untuk melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan di tubuh. Dari nyeri ini tubuh akan melakukan tindakan yang diperlukan selanjutnya.
Mekanisme terjadinya nyeri adalah sebagai berikut rangsangan(mekanik, termal atau Kimia) diterima oleh reseptor nyeri yang ada di hampir setiap jaringan tubuh,  Rangsangan ini di ubah kedalam bentuk impuls yang di hantarkan ke pusat nyeri di korteks otak. Setelah di proses dipusat nyeri, impuls di kembalikan ke perifer dalam bentuk persepsi nyeri (rasa nyeri yang kita alami).

Proses Terjadinya Nyeri
Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf telanjang yang ditemukan hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut Aδ bermielin halus bergaris tengah 2-5 µm, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik. Sistem kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 µm, dengan kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik.
Serabut Aδ berperan dalam menghantarkan "Nyeri cepat" dan menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan serabut C menghantarkan "nyeri Lambat" dan menghasilkan persepsi samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak.
Pusat nyeri terletak di talamus, kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron traktus spinotalamus lateral dan impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini ke nukleus posteromidal ventral dan posterolateral dari talamus. Dari sini impuls diteruskan ke gyrus post sentral dari korteks otak.

Gambar: Peranan analgetika terhadap nyeri

ANALGETIKA PERIFER
Analgetika yang bekerja perifer atau kecil memiliki kerja antipiretik dan juga komponen kerja antiflogistika dengan pengecualian turunan asetilanilida.Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer (parasetamol, asetosal, mefenamat atau aminofenazon).
Golongan Obat Analgetik Perifer
Secara kimiawi, analgetik perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni:
Parasetamol
Salisilat: asetosal,salisilamida,dan benorilat
Penghambat prostaglandin (NSAID’s): ibuprofen(Arthrifen), dan lain-lain
Derivate-derifat antranilat: mefenaminat, asam niflumat glafenin,flokfatenin.
Derivate-derivat pirazolinon: aminofenazon, isoprofilpenazon, isopropilaminofenazon dan metamizol.
Lainnya: benzidamin (tantum)
Co-analgetika adalah obat yang khasiat dan indikasi utamanya bukanlah menghalau nyeri, yakni NSAID’s(Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs), Anti depresiva trisiklis (amitriptilin), dan anti-epileptika (karbamazepin,valproat).Obat-obat ini digunakan tunggal atau terkombinasi dengan analgetika lain pada keadaan tertentu, seperti pada nyeri akibat peradangan dan neuropati.
Penggunaan
Obat ini mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretis dan atau anti radang.Oleh karena itu obat ini tidak hanya digunakan sebagai obat anti nyeri ,melainkan juga pada gangguan demam (infeksi virus/kuman,selema,pilek) dan peradangan seperti rema dan encok. Obat ini banyak digunakan pada nyeri ringan sampai sedang, yang penyebabnya beraneka ragam,isalnya nyeri kepala,gigi,otot,atau sendi (rema, encok), perut,nyeri haid,(dysmenorroe), nyeri akibat benturan atau kecelakaan(trauma).Untuk kedua nyeri terakhir,NSAID lebih layak.Pada nyeri lebih berat seperti setelah pembedahan atau fraktur (tulang patah),kerjanya kurang efektif.
Daya antipiretisnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hypothalamus, yang mengakibatkan vasolidatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.
Daya antiradang (antiflogistis).Kebanyakan analgetika memiliki daya antiradang, khususnya kelompok besar dari zat-zat penghambat prostaglandin (NSAID’s,termasuk asetosal),begitu pula benzidamin. Zat-zat ini banyak digunakan untuk rasa nyeri disertai peradangan.
Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan,karena terjadi efek potensiasi. Lagi pula efek sampingnya,yang masing-masing terletak di bidang yang berlainan, berkurang,karena dosisnya masing-masing dapat diturunkan. Kombinasi analgetika dengan kofein dan kodein sering kali dibuat,khusunya dalam sendian dengan parasetamol dan asetosal.

Mekanisme kerja: Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX (enzim siklooksigenase ) pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri .
Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar, oleh karena itu penggunaan analgetika secara kontinu tidak dianjurkan.

Penggolongan analgetik non narkotik:

Analgetik-antipiretik
  • turunananilindan p-aminofenol (asetanilid, fanasetin)
  • turunan 5-pirazolon (antipirin, metampiron, propifenazon)
Antiradang bukan steroid [NSAID]
  • turunansalisilat (asamsalisilat, salisilamida, asetosal)
  • turunan 5-pirazolidindion (fenilbutazon, sulfinpirazon)
  • turunan N-arilantranilat (asam mefenamat)
  • turunan asam arilasetat (diklofenak, ibuprofen)
  • turunan asam heteroarilasetat (asam tiaprofenat, fentiazak)
  • turunan oksikam (piroksikam, tenoksikam)
  • turunan lain-lain (benzidamin, asam niflumat) 
 
Hubungan  struktur aktivitas Turunan Asam Salisilat:
senyawa anion salisilat aktif sebagai antiradang, gugus karboksilat penting untuk aktivitas dan letak gugus hidroksil harus berdekatan dengannya.
turunan halogen dapat meningkatkan aktivitas tetapi toksisitas lebih besar
adanya gugus amino pada posisi 4 akan menghilangkan aktivitas
pemasukkan gugus metil pada posisi 3 menyebabkan metabolisme (hidrolisis gugus asetil) menjadi lebih lambat. 
Adanya gugus aril yang hidrofob pada posisi 5 dapat meningkatkan aktivitas.
Hubungan struktur aktivitas Turunan Asam N-Arilantranilat:
cincin benzen yang terikat atom N memiliki subtituen pada posisi 2, 3, dan 6 akan meningkatkan aktivitas
jika gugus-gugus  pada N-aril berada diluar koplanaritas asam antranilat maka aktivitas  meningkat
Penggantian atom N pada asam antranilat dengan gugus isosterik seperti O, S, dan CH2 menurunkan aktivitas.
Hubungan struktur aktivitas Arilasetat:
pemisahan dengan lebih dari satu atom C akan menurunkan aktivitas
adanya gugus a-metil pada rantai samping asetat dapat meningkatkan aktivitas antiradang
adanya a-subtitusi menyebabkan senyawa bersifat optis aktif dan terkadang isomer satu  (isomer S) lebih aktiv dari isomer lainnya.
Turunan ester dan amida memiliki aktivitas antiradang karena secara invivo dihidrolisis menjadi bentuk asamnya. 
 
ANALGETIKA SENTRAL/NARKOTIK
Analgetik narkotik merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan papafer somiferum atau dari senyawa sintetik.
Analgetik ini digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai hebat dan nyeri yang bersumber dari organ visera.
Penggunaan berulang dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan.
Toleransi ialah adanya penurunan efek, sehingga untuk mendapatkan efek seperti semula perlu peningkatan dosis.
Karna dapat menimbulkan ketergantungan, obat golongan ini di awasi secara ketat dan hanya untuk nyeri yang tidak dapat diredakan oleh AINS.
Nyeri minimal disebabkan oleh 2 hal, yaitu iritasi lokal (menstimuli saraf perifer) dan adanya persepsi nyeri oleh SSP.
Analgetik narkotik bekerja di SSP, memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali. Dalam dosis besar dapat bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran) mempunyai efek samping menimbulkan rasa nyaman (euforia).
Hampir semua perasaan tidak nyaman dapat di hilangkan oleh analgetik narkotik kecuali sensasi kulit.
Harus hati-hati menggunakan analgesik ini karena mempunyai resiko besar terhadap ketergantungan obat (adiksi) dan kecenderungan penyalahgunaan obat.
Obat ini hanya dibenarkan untuk penggunaan insidentil pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark jantung, kolik batuk empedu atau batu ginjal). Tanpa indikasi kuat tidak dibenarkan penggunaannya secara kronik, disamping untuk mengatasi nyeri hebat, penggunaan narkotik di indikasikan pada kanker stadium lanjut karena dapat meringankan penderitaan.
Fentanil dan alfentanil umumnya digunakan sebagai fremedikasi dalam pembedahan karena dapat memperkuat anastesi umum sehingga mengurangi timbulnya kesadaran selama anastesi.

Analgetika narkoti, kini disebut juga opioida (= mirip opiate) adalah zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di susunan saraf pusat, hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Minimal ada 4 jenis reseptor, pengikatan padanya menimbulkan analgesia. Tubuh dapat mensintesa zat-zat opioidnya sendiri, nyakni zat –zat endorphin yang juga bekerja melalui reseptor opioid tersebut.
Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen), terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan impuls nyeri. Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan, misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain: enkefalin, endorfin, dan dinorfin.
Endorphin (morfin endogen) adalah kelompok polipeptidaendogen yang terdapat di CCS dan dapat menimbulkan efek yang menyerupai efek morfin. Zat-zat ini dapat dibedakan antara β-endorfin, dynorfin dan enkefalin (yun. Enkephalos = otak), yang menduduki reseptor-reseptor berlainan.secara kimiawi za-zat ini berkaitan dengan kortikotrofin (ACTH), menstimulasi pelepasanya juga dari somatotropin dan prolaktin. Sebaiknya pelepasan LH dan FSH dihambat oleh zat ini. β-endorfin pada hewan berkhasiat menahan pernapasan, menurunkan suhu tubuh dan menimbulkan ketagihan. Zat ini berdaya analgetis kuat, dalam arti tidak merubah persepsi nyeri, melainkan memperbaiki ‘’penerimaannya”. Rangsangan listrik dati bagian- bagian tertentu otak mengakibatkan peningkatan kadar endorphin dalam CCS. Mungkin hal ini menjelaskan efek analgesia yang timbul (selama elektrostimulasi) pada akupunktur, atau pada stress (misalnya pada cedera hebat). Peristiwa efek placebo juga dihubungkan dengan endomorfin.
Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis, mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuh ke otak, dan bertindak juga sebagai neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.
Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim.
Ada beberapa jenis Reseptor opioid  yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid Î¼ÎºÏƒ,δε.  (dan yang terbaru ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1) receptor or “orphan” opioid receptor dan e-receptor, namum belum jelas fungsinya).
Reseptor Î¼ memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan fisik dari opioid. Sedangkan reseptor Î¼ 2 memediasi efek depresan pernafasan.
Reseptor Î´ yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap Î¼  opioid. reseptor Îº telah diketahui dan berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar dalam otak dan sumsum tulang belakang. Reseptor Î´ dan reseptor Îºmenunjukan selektifitas untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor  Î¼ selektif untuk opioid analgesic.


Mekanisme umumnya  :
Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat.

Endorfin bekerja dengan jalan menduduki reseptor – reseptor nyeri di susunan saraf pusat, hingga perasaan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgesic opioida berdasarkan kemampuannya untuk menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang belum di tempati endokfin. Tetapi bila analgetika tersebut digunakan terus menerus, pembentukan reseptor-reseptor baru di stimulasi dan pdoduksi endorphin di ujung saraf pusat dirintangi. Akibatnya terjadilah kebiasaan dan ketagihan.

Penggolongan analgetik narkotik :
  1. Alkaloid alam: morfin dan kodein
  2. Derivat semi sintes: heroin
  3. Derivate sintetik: metadon, fentanil
  4. Antagonis morfin: nalorfin , nalokson, pentazocin
Mekanisme kerja analgesik dengan pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord.
Struktur  yang memiliki peran penting dalam analgesik (dalam  morfin) : 
  • Struktur bidang datar yang mengikat cincin aromatik obat melalui ikatan van der wall.
  • Tempat anionik yang berinteraksi dengan pusat muatan positif obat.
  • Lubang yang sesuai untuk –CH2-CH2- dari proyeksi cincin piperidin.

Hubungan Struktur Aktifitas Turunan Morfin :
eterifikasi dan esterifikasi gugus hidroksil fenol akan menurunkan aktivitas analgesik
eterifikasi, esterifikasi, oksidasi atau penggantian gugus hidroksil alkohol dengan halogen atau hidrogen dapat meningkatkan aktivitas analgesik
perubahan gugus hidroksil alkohol dari posisi 6 ke posisi 8 menurunkan aktivitas analgesik.
pengubahan konfigurasi hidroksil pada C6 dapat meningkatkan aktivitas analgesik
hidrogenasi ikatan rangkap c7-C8 dapat menghasilkan efek yang sama atau lebih tinggi
substansi pada cincin aromatik akan mengurangi aktivitas analgesik
pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5 menurunkan aktivitas
pembukaan cincin piperidin menyebabkan penurunan aktivitas


Pertanyaan:
1. Pembukaan cincin piperidin menyebabkan penurunan aktivitas morfin, bagaimana mekanismenya?
2. Ikatan van der wall itu maksudnya bagaimana?
3. Bagaimana ikatan analgetik non narkotik pada reseptor kappa, miu, dan gamma?
4. senyawa anion salisilat aktif sebagai antiradang, gugus karboksilat penting untuk aktivitas dan letak gugus hidroksil harus berdekatan dengannya. Mengapa demikian?
5. Bagaimana cara menentukan farmakofor pada analgetik narkotik dan non narkotik? Apakah sama pada tiap2 golongan obat?
6. Bagaimana interaksinya dengan obat-obatan lain?
7. Apakah analgetik non narkotik bisa dikombinasikan?
8. Bagaimana penjelasan gambar ini?
 

9. Bagaimana mekanisme terjadinya toksisitas pada penggunaan Tramadol HCl?
10. Bagaimana penggunaaan mengkomsumsi obat analgetik dengan aman?
11. Apakah penyalahgunaan yang sering terjadi terkait penggunaan analgetik golongan narkotika?
12. jika salah satu obat analgetik yg di gunakan tidak habis, efek samping apa yang akan di timbulkan bagi si pasien tsb ?
13. apakah parasetamol bisa di kombinasikan dengan obat lain ?
14. mengapa obat analgetik narkotik dapat memberikan efek adiksi?

Komentar

  1. Untuk pertanyaan nomor 2, ikatan van der Waals adalah kekuatan tarik menarik antar molekul yang tidak berikatan dan letaknya berdekatan. Pada obat, substituent lipofil polar sangat meningkatkan interaksi van der Waals.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan menambahkan jawaban NO 2 ,
      ikatan van der walls merupakan ikatan yang dimemiliki oleh gas-gas mulia yang mengalami proses kondensasi , sehingga fasanya berubah menjadi fasa cair pada saat temperaturnya mencapai temperatur yang sangat rendah.ikatan van der waals merupakan ikatan yang lebih lemah jika dibandingkan ikatan kovalen ,ion dan ikatan logam.

      Hapus
  2. Saya akan mnjwb prtanyaan no 2 yg kebutulan saya singgung sedikit di blog saya "review pharmachopore" (silahkan mampir) ikatan Van Der Walls yaitu ikatan yg terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar, molekul-molekul polar, atau antara molekul non polar dengan molekul polar, sederhananya dpt dijelaskan spt itu.

    BalasHapus
  3. saya akan mencoba menjawab soal no 7
    Penggunaan analgetik non narkotika sering dikombinasikan, contohnya yaitu kombinasi antara parasetamol dengan golongan NSAIDs, terutama kelompok celecoxib (celebrex), lumiracoxib (prexige), parecoxib (dynastat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban nadya, saya juga akan menambahkan jawabannya. Dalam sediaannya ,obat golongan non narkotik contohnya pct sering dikombinasikan dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.

      Hapus
    2. saya setuju jika Penggunaan analgetik non narkotika dapat dikombinasikan dengan obat lain, misalnya Benorylate yaitu kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.

      Hapus
    3. iya karena golongan celcoxib adalah selektif menghambat cox 2 saja

      Hapus
  4. Saya akan mencoba menajwab pertanyaan no. 9 Tramadol bekerja dengan mempengaruhi reaksi kimia di otak yang pada akhirnya membuat seseorang nyerinya berkurang.  Efek obat tramadol mirip dengan obat golongan opiat (contohnya morfin),  jika tramadol dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan efek euforia,  dan peningkatan  mood sehingga orang sering menyebutnya dengan istilah "fly". Tramadol juga meningkatkan neurotransmitter  serotonin dan norepinephrine (yang mengatur suasana hati,  rasa senang,  dll) dalam otak sehingga efeknya bisa seperti obat antidepresan. Manusia memproduksi zat-zat tersebut dalam jumlah normal,  namun ketika ditambah dengan tramadol ini,  zat-zat yang diproduksi secara alami menjadi tidak berproduksi,  dan tubuh akan toleran terhadap tramadol.Lama kelamaan,  seseorang akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek "fly"  yang diinginkan,  dan jika tiba-tiba tidak mengonsumsi tramadol,  tubuh tidak memproduksi neurotransmitter ini secara alami kembali sehingga akan terjadi gejala putus obat (withdrawal), seperti gejala depresi,  rasa nyeri seluruh tubuh,  kesemutan, halusinasi  ketakakutan.

    BalasHapus
  5. Saya ingin menjawab nomor 13 mengenai kombinasi obat parasetamol dengan ibuprofen yang keduanya memiliki efek analgetik.
    Paracetamol merupakan golongan analgetik (penghilang nyeri) ringan hingga sedang. Selain itu, obat ini juga mengandung efek antipiretik sehingga sering digunakan untuk menurunkan demam. Parasetamol termasuk ke dalam obat bebas yang dapat dibeli tanpa menggunakan resep dokter. Dosis paracetamol adalah 500 mg - 1 gram tiap 4-6 jam Ibuprofen termasuk dalam golongan obat anti-inflamasi non-steroid, digunakan sebagai penghilang nyeri ringan hingga sedang dan juga untuk mengatasi peradangan. Selain itu, obat ini juga dapat berperan sebagai antipiretik. Dosis penggunaannya adalah tiga kali 200 - 400 mg per hari. Karena manfaatnya yang serupa, kedua obat ini sebagian besar digunakan secara tunggal. Namun, penggunaan mereka sebagai kombinasi juga dapat diterapkan, dengan syarat mengurangi dosis untuk masing-masing obat (bukan dosis lazim seperti yang tertera di atas). Sudah terdapat beberapa merek yang menggabungkan kedua jenis obat ini. Terkait kapan sebaiknya menggunakan preparat gabungan atau tidak, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Penggunaan kombinasi ini juga tiga kali dalam sehari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat saudara ines, menurut saya karena obat parasetamol dengan ibuprofen memiliki kandungan dan khasiat yang sama sehingga pemakaiannya tidak di anjurkan bersamaan karena akan memberikan aktifitas yang sinergis sehingga akan mempercepat toksisitas di dalam tubuh . jika disarankan untuk meminum kombinasi obat ini sebaiknya perlu menggunakan interval waktu untuk mengkonsumsinya minimal 4 jam ataupun sesuai anjuran dokter

      Hapus
  6. untuk pertanyaan no 14. Menurut saya terjadi adiksi pada penggunaan analgetik narkotik dipengaruhi oleh 2 farktor. Yaitu :
    1. Penggunaan obat dalam waktu yang relative lama
    2. Penggunaan dosis obat yang berlebih

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban yassir. adapun penyebab dari faktor-faktor tersebut adalah umumnya, golongan analgetika narkotik yang menyebabkan ketergantungan Dimana Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

      Hapus
    2. saya setuju, semua jenis obat analgetik narkotik bekerja pada ssp, sehingga memberikan efek fly dan ketergantungan yang sangat kuat, sehingga penggunaanya harus dengan ajuran dokter

      Hapus
  7. saya ingin menjawab soal no 7
    menurut saya bisa karena Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
    seperti bisa dikombinasikan denganobat antiinflamasi dan antipiretik.

    BalasHapus
  8. Menurut saya Paracetamol bisa dikombinasikan dengan obat lain biasanya dikombinasikan dengan analgetik dan antipiretik yang lain, seperti pada obat panadol terdapat Paracetamol dan caffein, pada Polda terdapat Paracetamol, asetosal serta caffein, seperti alaxan fr dan arthrifen plus terdapat Paracetamol dan ibuprofen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari artikel yang saya baca, memang benar ada beberapa obat analgetik non narkotik yang dikombinasikan seperti contoh yang telah disebutkan sebelumnya oleh saudari risma. tujuan dikombinasikan yaitu agar didapatkan efek terapi yang maksimal untuk mengurangi bahkan menghilangkan nyeri yang dirasakan

      Hapus
  9. assalamualaikum puji ,saya akan menjawab no 3 reseptor mu mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang berefek analgesia, euforia. Reseptor kappa mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang mempunyai edek analgesia dan sedasi. Reseptor delta hanya mempengaruhi otak mempunyai efek analgesia dan antidepresi makasih

    BalasHapus
  10. saya akan menjawab no 11. penyalahgunaan yang sering terjadi adalah obat analgetik narkotik itu dapat membuat ketergantungan karena bisa meyebabkan suatu sensasi euforia yaitu suatu rasa puas dan rasa sehat yang kuat sehingga obat-obat jenis ini banyak disalahgunakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya saya setuju dengan jawabab jawaban yoan, Obat analgetik narkotik bekerja di sistem susunan saraf pusat, jika terjadi penyalahgunaan maka akan menyebabkan ketergantungan, euforia / rasa senang yang berlebihan.

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat yoan dan kak tika, karena efeknya euforia inilah yang menyebabkan analgetik narkotik ini banyak di salahgunakan, yaitu untuk menenangkan fikiran dan untuk kesenangan semata.

      Hapus
  11. saya mencoba menjawab no 2
    Ada tiga jenis utama reseptor opioid yaitu mu , delta dan kappa (k). Reseptor mu memperantarai efek analgetik mirip morfin, euforia, depresi napas, miosis, berkurangnya motilitas saluran cerna. Reseptor k diduga memperantarai analgesia seperti yang ditimbulkan pentazosin, sedasi serta miosis dan depresi nafas yang tidak sekuat agonis mu. Selain itu disusunan saraf pusat juga didapatkan reseptor delta yang selektif terhadap enkefalin dan reseptor epsilon yang sangat selektif terhadap beta-endorfin tetapi tidak mempunyai afinitas terhadap enkefalin. Terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa reseptor delta memegang peranan dalam menimbulkan depresi pernapasan yang ditimbulkan opioid.

    BalasHapus
  12. saya akan menjawab pertanyaan no 13
    Paracetamol merupakan golongan analgetik (penghilang nyeri) ringan hingga sedang. Selain itu, obat ini juga mengandung efek antipiretik sehingga sering digunakan untuk menurunkan demam. Parasetamol termasuk ke dalam obat bebas yang dapat dibeli tanpa menggunakan resep dokter. Dosis paracetamol adalah 500 mg - 1 gram tiap 4-6 jam Ibuprofen termasuk dalam golongan obat anti-inflamasi non-steroid, digunakan sebagai penghilang nyeri ringan hingga sedang dan juga untuk mengatasi peradangan. Selain itu, obat ini juga dapat berperan sebagai antipiretik. Dosis penggunaannya adalah tiga kali 200 - 400 mg per hari. Karena manfaatnya yang serupa, kedua obat ini sebagian besar digunakan secara tunggal. Namun, penggunaan mereka sebagai kombinasi juga dapat diterapkan, dengan syarat mengurangi dosis untuk masing-masing obat (bukan dosis lazim seperti yang tertera di atas). Sudah terdapat beberapa merek yang menggabungkan kedua jenis obat ini. Terkait kapan sebaiknya menggunakan preparat gabungan atau tidak, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Penggunaan kombinasi ini juga tiga kali dalam sehari.

    BalasHapus
  13. 2. Ikatan van der waal’s merupakan kekuatan tarik-menarik antar molekul atau atom yang tidak bermuatan dan letaknya berdekatan ,Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom.

    BalasHapus
  14. saya akan menjawab pertanyaan no. 8
    -gugus N akan berikatan dengan reseptor
    -cincin piperidin berikatan dengan cavity
    -gugus hidroksi fenol berikatan pada phenolic site
    -gugus hidroksi alkohol berikatan dengan focus of charge

    BalasHapus
  15. Saya akan menjawab pertanyaan no. 10. Penggunaan analgetik cukup digunakan pada saat nyeri saja dan pengkonsumsiannya bisa dihentikan apabila rasa nyeri sudah hilang. Untuk nyeri ringan sampai sedang dapat digunakan analgetik non narkotik sedangkan untuk nyeri sedang sampai kuat dapat digunakan analgetik narkotik.

    BalasHapus
  16. nmr 2

    merupakan ikatan yang dimemiliki oleh gas-gas mulia yang mengalami proses kondensasi , sehingga fasanya berubah menjadi fasa cair pada saat temperaturnya mencapai temperatur yang sangat rendah.ikatan van der waals merupakan ikatan yang lebih lemah jika dibandingkan ikatan kovalen ,ion dan ikatan logam.

    BalasHapus
  17. no. 10 cara mengkonsumsi analgetik yang aman:
    Menurut Puspitasari (2010), cara mengkonsumsi obat analgetik adalah sebagai berikut :
    1. Semua salisilat harus diminum sesudah perut terisi makanan agar mengurangi keasaman lambung. Dalam kondisi kosong, dengan keasaman yang tinggi, ditambah minum analgetik jenis salisilat yang bersifat asam, akan memicu dan memperparah gangguan lambung dan usus.
    2. Parasetamol dan antalgin dianjurkan untuk diminum sebelum perut terisi makanan. Kedua obat ini diserap oleh usus (bukan oleh lambung), sehingga bila obat telah berada dalam lambung yang kosong, begitu ada makanan, obat akan terdorong ke usus, maka proses penyerapan obat akan jauh lebih cepat
    3. Parasetamol dan antalgin sebaiknya diminum dengan air yang tidak bersifat asam (jangan jus atau minuman berkarbonansi) karena akan menghambat penyerapan obat yang telah bereaksi membentuk sedikit garam dengan media asam
    4. Bila penderita tidak memiliki gangguan lambung, dianjurkan minum obat golongan salisilat dengan jus yang asam karena akan mempercepat penyerapan obat oleh lambung, sehingga efek obat lebih cepat.

    BalasHapus
  18. Salah satu interaksinya serum concentration of Acebutolol dapat meningkat ketika dikombinasikan dengan Morphine.

    BalasHapus
  19. saya akan mencoba menjawab soal no 7
    Penggunaan analgetik non narkotika sering dikombinasikan, contohnya yaitu kombinasi antara parasetamol dengan golongan NSAIDs, terutama kelompok celecoxib (celebrex), lumiracoxib (prexige), parecoxib (dynastat)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

review jurnal farmasi

REVIEW JURNAL Judul Evaluasi Kerasionalan Penggunaan Antibiotika pada Pengobatan Pneumonia Anak di Instalasi Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2013 Jurnal Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Volume dan Halaman Vol. 3 No. 3 Hal. 247-254 Tahun 2014 Penulis Pingkan C. Kaparang, Heedy Tjitrosantoso, dan Paulina V. Y. Yamlean Reviewer Puji Sri Lestari (F1F115011) Tanggal 19 April 2016 Tujuan Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis kombinasi antibiotik yang efisien untuk digunakan oleh penderita pneumonia anak berdasarkan kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada kriteria tepat dosis dan tepat lama pemberian. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, pada bulan Februari sampai Juni 2014. Jenis Penelitian Penelitian  ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan pengambilan d...

Antihistamin: antagonis H1

ANTIHISTAMIN: ANTAGONIS H1 Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihatdari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugus anetilamin ini sering kali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur siklik, misalnya antazolin. Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamine seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau ”competitive  inhibition”. Obat-obat ini pun tidak menghalang-halangi pembentukan histamine pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamine kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistaminic mengikat diri...