ANTIHISTAMIN: ANTAGONIS H1
Antihistaminika adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghindarkan
efek atas tubuh dari histamin yang berlebihan, sebagaimana terdapat pada
gangguan-gangguan alergi. Bila dilihatdari rumus molekulnya, bahwa inti
molekulnya adalah etilamin, yang juga terdapat dalam molekul histamin. Gugus
anetilamin ini sering kali berbentuk suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula
merupakan bagian dari suatu struktur siklik, misalnya antazolin.
Antihistaminika tidak mempunyai kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan
histamine seperti halnya dengan adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi
melakukan kegiatannya melalui persaingan substrat atau ”competitive
inhibition”. Obat-obat ini pun tidak menghalang-halangi pembentukan histamine
pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamine kedalam unsur-unsur
penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri
tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistaminic mengikat diri dengan
reseptor-reseptor yang sebelumnya harus menerima histamin, maka zat ini
dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang spesifik terhadap
jaringan-jaringan. Dapat diangga petilaminlah dari antihistaminika yang
bersaing dengan histamine untuk sel-sel reseptor tersebut.
Di dalam tubuh adanya stimulasi reseptor H1 dapat menimbulkan
vasokontriksi pembuluh-pembuluh yang lebih besar, kontraksi otot (bronkus,
usus, uterus), kontraksi sel-sel endotel dan kenaikan aliran limfe. Jika
histamin mencapai kulit misal pada gigitan serangga, maka terjadi pemerahan
disertai rasa nyeri akibat pelebaran kapiler atau terjadi pembengkakan yang
gatal akibat kenaikan tekanan pada kapiler. Histamin memegang peran utama pada
proses peradangan dan pada sistem imun.
TURUNAN FENOTIAZIN
Antihistamin
trisiklik pertama kali yang poten adalah fenotiazin ( Y = S dan X = N) dan
mengandung dua atau tiga atom karbon menghubungkan rantai alkil diantara
nitrogen fenotiazin dan amina alifatik.
Mereka
berbeda dari turunan fenotiazin antipsikotik yang mana biasanya panjang rantai
tiga atom karbon dan tidak bercabang
dan hilangnya substitusi dalam cincin
aromatik.
Disamping
aktivitas antihistamin yang bermanfaat, kebanyakan mempunyai aksi sedatif dan durasinya lama.
Penggunaan
lain termasuk pengobatan nausea dan vomiting dihubungkan dengan anestesi dan
untuk mabok perjalanan.
Berikut
turunan fenotiazin:
Mekanisme Prometazin
Hidroklorida
Prometazin dimetabolisme terutama untuk
promethazine sulphoxide dan ke promethazine desmethyl tingkat yang lebih
rendah. Obat ini diserap dengan baik dari saluran pencernaan. Konsentrasi
plasma puncak sulphoxide metabolit terjadi setelah pemberian intravena.
Konsentrasi puncak plasma ini terjadi setelah 2 sampai 3 jam
bila prometazin diberikan secara oral (25 sampai 50 mg)
atau intramuskuler (25 mg). Metabolisme juga terjadi pada dinding usus
tetapi lebih rendah derajat dari sebelumnya. Setelah pemberian rektal
prometazin dalam formulasi supositoria, terjadi konsentrasi plasma puncak yang
diamati setelah sekitar 8 jam. Bioavailabilitas oralnya adalah sekitar 25%.
Sedangkan Bioavailabilitas rektalnya 23%.
Prometazin
hydrochloride sebagai AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah,
bronkus dan bermacam-macam otot polos. AH1 juga bermanfaat untuk mengobati
reaksi hipersensitivitas dan keadaan lain yang disertai pelepasan histamin
endogen berlebih. Histamin endogen bersumber dari daging dan bakteri dalam
lumen usus atau kolon yang membentuk histamin dari histidin.
Dosis terapi AH1 umumnya
menyebabkan penghambatan sistem saraf pusat dengan gejala seperti kantuk,
berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat, mekanismenya
mengantagonir histamine dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari
dinding pembuluh, bronchi dan saluran cerna, kandung kemin dan rahim. Efek
samping ini menguntungkan bagi pasien yang memerlukan istirahat namun dirasa
menggangu bagi mereka yang dituntut melakukan pekerjaan dengan kewaspadaan
tinggi. Jadi sebenarnya rasa kantuk yang ditimbulkan setelah penggunaan
Prometazin hydrochloride merupakan salah satu efek samping dari obat
tersebut.
TURUNAN ETER AMINO ALKIL
Hubungan struktur dan aktifitas
1. Pemasukan gugus
Cl, Br dan OCH3 pada posisi pada cincin aromatic akan meningkatkan aktivitas
dan menurunkan efek samping.
2. Pemasukan gugus
CH3 pada posisi p-cincin aromatic juga dapat meningkatkan aktivitas tetapi
pemasukan pada posisi o- akan menghilangkan efek antagonis H1 dan akan meningkatkan
aktifitas antikolinergik
3. Senyawa turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergik
yang cukup bermakna karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol,
suatu senyawa pemblok kolinergik.
Turunan:
1. 1. Dipenhidramin
HCl
Difenhidramin mudah
disintesis, dengan mengkondensasikan benzhidril bromida dengan dimetil amino
etanol dengan adanya natrium karbonat.
Diberikan secara oral
atau parentral untuk pengobatan urtikaria, rinitis musiman dan antiemetik dan
obat batuk.
Difenhidramin diikat
oleh plasma protein 80-98%, kadar tertinggi dicapai dalam 2-4 jam setelah
pemberian oral.
2. 2. Dimenhidrinat; Dramamine; dimetil etilamin
- Dibuat dengan mereaksikan difenhidramin dengan 8-kloroteofilin.
- Dengan adanya turunan purin tersebut dimaksudkan agar ada efek menstimulasi system syarat pusat.
- Dapat digunakan untuk mabuk perjalanan dan untuk mengatasi rasa mual pada waktu hamil.
- Bentuk basa bebasnya berupa cairan menyerupai minyak yang larut dalam lipid. Garam maleatnya berbentuk kristal putih, larut dalam air dan mudah larut dalam alkohol dan kloroform.
- Perbedaan struktur karbinoksamin dengan klorfeniramin terletak pada atom oksigen yang dipisahkan oleh atom karbon asimetrik dari rantai samping aminoetil.
- Isomer levo karbinoksamin yang lebih aktif mempunyai konfigurasi absolut S dan dapat superimposabel dengan isomer klorfeniramin yang mempunyai konfigurasi absolut S.
- Karbinoksamin merupakan antihistamin poten yang efek sedasinya kurang menonjol dan tersedia sebagai campuran rasemik.
- Obat ini mempunyai aksi durasi yang lama, dengan aktivitas yang mencapai maksimum dalam 5 – 7 jam, dan tetap berlangsung selama 10 – 12 jam.
- Jika diberikan peroral akan diabsorpsi dengan baik dan ekskresinya terutapa di urin.
TURUNAN ETILENDIAMIN
Rumus umum: Ar(Ar’)N-CH2-CH2-N(CH3)2
·
Etilendiamin
mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.
·
Antihistamin
tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.
· Pada
kebanyakan molekul obat adanya nitrogen
kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang
stabil dengan asam mineral.
· Gugus
amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan
tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.
·
Elektron
bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatik.
· Merupakan antagonis H1 dengan
keefektifan yang cukup tinggi, meskipun penekan system saraf dan iritasi
lambung cukup besar.
Hubungan struktur antagonis H1 turunan etilen diamin
1. Tripelnamain
HCl, mempunyaiefek antihistamin sebanding dengan dufenhidramin dengan efek
samping lebih rendah.
2. Antazolin HCl,
mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding turuan etilendiamin
lain.
3. Mebhidrolin
nafadisilat, strukturnya mengandung rantai samping amiopropil dalam system
heterosiklik karbolin dan bersifat kaku.
Turunan:
1. Fenzebamin
Fenbenzamin merupakan salah satu anti histamin
kuat yang ditemukan oleh Halpern (1942), dan merupakan model untuk deret
senyawa yang mempunyai struktur umum.
Sintesis dan evaluasi hayati senyawa dengan struktur ini menghasilkan
banyak anti histamin yang dipakai dalam klinik.
1. Tripelenamin sitrat, Pyribenzamin citrate; piridin
dihidrogen sitrat (1:1)
Merupakan turunan fenbenzamin dengan satu penggantian isosterik
sederhana, yaitu gugus fenil diganti dengan gugus piridil. Penggaraman dengan
asam sitrat, karena garam sitrat kurang pahit dibanding garam HCl, sehingga
rasanya lebih enak. Karena berbeda bobot molekulnya dosis kedua garam harus
disetarakan: 30 mg garam sitrat setara dengan 20 mg garam hidrokloridanya.
2. Tripelenamin Hidroklorida
Garam tripelenamin HCl merupakan serbuk kristal putih dan akan berubah
menjadi gelap dengan adanya cahaya. Garam yang larut dalam air (1: 0,77) dan
dalam alkohol (1:6). Mempunyai pKa sekitar 9 , pada larutan 0,1 % merupakan pH
5,5. Jika diberikan per oral, absorbsinya baik dan efektifitasnya sama dengan
difenhidramin dan reaksi sampingnya lebih sedikit dan lebih ringan. Menyebabkan
kantuk dan harus dihindarkan pemakaian dengan minuman beralkohol.
3. Pirilamin Maleat
Basa bebas berbentuk seperti minyak, tersedia sebagai garam asam
maleat., yang berupa serbuk kristal putih dengan sedikit bau, berasa pahit dan
asin. Pirilamin maleat merupakan antihistamin yang kurang poten, tetapi poten
dalam meng-antagonis kontraksi terinduksi histamin pada ileum marmot. Karena
mempunyai daya anestetika lokal, tidak boleh dikunyak harus bersama makanan.
4.
Metapirilen HCL; Histadyl HCL;
Berupa
serbuk kristalin putih, rasa pahit, larut dalam air, alkohol dan
kloroform, larutannya mempunyai pH 5,5. Cincin tiofen dianggap isosterik dengan
cincin benzena dan isoster ini memperlihatkan aktivitas yang sama. Konformasi trans-metapirilen
lebih disukai untuk dua atom nitrogen etilen diamina. FDA pada tahun 1979
menarik produk yang mengan-dung metapirilen karena menyebabkan kanker.
5.
Tonzilamin
HCL
Berupa
serbuk kristalin, larut dalam air , alkohol dan kloroform. Larutannya 2% dalam air mempunyai pH 5,5. Aktivitasnya
sama dengan tripelenamin tetapi kurang toksis. Dosis lazim : 50 mg, 4 kali
sehari.
TURUNAN PROPILAMIN
Anggota kelompok yang jenuh disebut sebagai
feniramin yang merupakan molekul khiral. Turunan tersubstitusi halogen dapat
diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam
tartrat. Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1 yang
paling aktif. Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien
mengalami efek ini. Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua
aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N faktor penting untuk aktivitas antihistamin. Gugus
pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.
Turunan:
1.
Feniramin
maleat; Avil ; Trimeton; Inhiston maleat
Berupa garam yang berwarna putih dengan
sedikit bau seperti amin yang larut dalam air, dan alkohol. Feniramin maleat
merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya dan dipasarkan sebagai
rasemat. Dosis lazim : 20 – 40 mg, sehari 3 kali
2. Klorfeniramin maleat ; Chlortrimeton maleat; CTM ; Pehachlor
Berupa puder kristalin putih, larut dalam air,
alkohol dan kloroform. Mempunyai pKa 9,2 dan larutannya dalam air memounyai pH
4-5.
Klorinasi ferinamin pada posisi para dari
cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x dengan perubahan toksisitas tidak
begitu besar.
Hampir semua aktivitas antihistamin terletak
pada enantiomorf dektro. Dektro-klor dan brom feniramin lebih kuat daripada
levonya.
3. Dekstroklorfeniramin
maleat = Polaramine maleat
Dekstroklorfeniramin maleat merupakan enantiomer klorfeniramin yang
memutar kekanan. Isomer ini aktivitas anti histaminnya paling dominan dan
mempunyai konfigurasi S yang super imposable pada konfigurasi S enantiomorf
karbinok-samin levorotatori yang lebih aktif.
4. Bromfeniramin
maleat = Dometane maleat
Kegunaan sama dengan klorfeniramin maleat
senyawa ini mempunyai waktu kerja yang panjang dan efektif dalam dosis 50 x
lebih kecil daripada dosis tripelenamin.
5. Dekstrobromfeniramin maleat = Disomer
Aktivitasnya didominasi oleh isomer dekstro, dan
potensinya sebanding.
Pertanyaan:
- Bagaimana mekanisme turunan Eter Amino Alkil, Etilendiamin, dan Propilamin?
- Bagaimana efek samping Eter Amino Alkil, Etilendiamin, dan Propilamin?
- Apa akibatnya jika penggunaannya tidak sesuai dengan dosis yang seharusnya?
- Dimana bagian farmakofor Eter Amino Alkil, Etilendiamin, dan Propilamin?
- bagaimana ikatan Eter Amino Alkil, Etilendiamin, dan Propilamin dengan reseptor?
hi puji,
BalasHapussuci ingin membantu menjawab pertanyaan nomor 2 kebetulan terlampir juga pada blog saya (#silahkanmampir).
efek samping Eter Amino Alkil :mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pembantu tidur pada obat tanpa resep
Etilendiamin : penekanan CNS dan gastro intestinal.
Propilamin : cenderung tidak membuat mengantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.
Menurut pendapat saya jawaban no 3 apa akibatnya jika penggunaannya tidak sesuai dengan dosis yang seharusnya akan menyebabkan efek samping yang serius pada fungsi organ seperti gagal ginjal dan kerusakan hati
BalasHapussaya ingin menambahkan pendapat tari selain itu bisa menyebabkan ketergantungan obat bahkan bisa menyebabkan kematian
HapusSaya akan menambahkan pendapat hesty yang mana pasien akan overdosis dan mengalami pusing terlebih dahulu.
HapusMenmbahkan jawaban nmr 3, jelas dampak penggunaan obat trsebut banyak sekali jika tidak dikonsumsi secara benar, salah satunya jika obt trsebut dikonsumsi oleh ibu hamil akan mengakibatkan fatal jika digunakan secara tidak benar
HapusMenurut artikel yang saya baca mengenai mekanisme kerja antagonis H1 adalah sebagai berikut :
BalasHapusAntihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin pada reseptor jaringan, sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi reseptornya. Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar yang tinggi. Dengan menghambat kerja dari histamin, terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin, yaitu menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta menghambat vasokonstriksi. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan histamin. Pada pemberian awal, antihistamin dapat mencegah edema dan pruritus selama reaksi hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang didapat jika digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik. Antihistamin tipe H1 klasik ini juga memiliki aktivitas antikolinergik, efek anestesi lokal, antiemetik, dan anti mabuk perjalanan. Beberapa antihistamin tipe H1 mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor α-adrenergik atau reseptor muskarinik kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin.
berdasarkan literatur yang saya baca, umunya ikatan ikatan yang terbentuk antara obat dengan reseptor dapat terjadi beberapa interaksi seperti, interaksi hidrofobik, elektrostatik, dan ikatan hidrogen. semoga bermanfaat
BalasHapusjika pengkonsumsian obat apapun dalam keadaan tidak sesuai dosis akan berakibat :
BalasHapusjika melebihi akan menimbulkan efek toksisitas atau keracunan tapi jika kurang dari dosis penggunaannya maka tidak akan memberikan efek terapi. terimakasih :)
saya akan menjawab no 2
BalasHapusefek samping dari eter amino dapat menyebabkan mengantuk, digunakan sebagai pembantu tidur, golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental, Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal, dan pada propilamin juga dapat menyebabkan ngantuk
hai puji, saya akan melengkapi jawaban dr yoan yaitu mengenai efek samping obat golongan eter amino dan etilendiamin, dimana efek samping eter amino yang paling sering ditemukan adalah menyebabkan kantuk. adapun efek samping secara rinci golongan etilen diamin adalah :
Hapus1. Mengantuk Antihistamin termasuk dalam golongan obat yang sangat aman pemakaiannya. Efek samping yang sering terjadi adalah rasa mengantuk dan gangguan kesadaran yang ringan (somnolen).
2. antikolinergik
HapusPada pasien yang sensitif atau kalau diberikan dalam dosis besar. Eksitasi, kegelisahan, mulut kering, palpitasi dan retensi urin dapat terjadi. Pada pasien dengan gangguan saraf pusat dapat terjadi kejang.
3. Diskrasia
HapusMeskipun efek samping ini jarang, tetapi kadang-kadang dapat menimbulkan diskrasia darah, panas dan neuropati.
4. Sensitisasi
HapusPada pemakaian topikal sensitisasi dapat terjadi dan menimbulkan urtikaria, eksim dan petekie.
saya akan menjawab pertanyaan no.2 efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan propilamin : Mengantuk ,Pusing ,Sakit kepala ,Sembelit ,Sakit perut , Penglihatan kabur Penurunan koordinasi Kering pada mulut, hidung, dan tenggorokan salah satunya pada CTM
BalasHapushai mbak disini saya juga akan mencoba menjawab pertanyaan yg no 2,
BalasHapusefek samping dari Eter Amino Alkil yaitu mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pembantu tidur pada obat tanpa resep,efek samping dari Etilendiamin yaitu,penekanan CNS dan gastro intestinal,sedangkan efek samping pada Propilamin yaitu,cenderung tidak membuat mengantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.
Saya akan menjawab pertanyaan no 3 , yang akan terjadi apa bila penggunaannya tidak sesuai dengan dosis yang seharusnya maka akan terjadi reaksi efek samping yang berlebihan. terimakasih semoga bermanfaat
BalasHapusPertanyaan no.1
BalasHapusAntihistamin atau penghambat H1, bersaing dengan histamin untuk menduduki reseptor, sehingga menghambat respon histamin. Penghambatan H1 disebut juga antagonis histamin. ada 2 tipe reseptor histamin, H1 dan H2, keduanya menyebabkan respon yang berbeda. Bila H1 dirangsang, otot-otot polos ekstravaskuler, termasuk otot-otot yang melapisi rongga hidung akan berkontriksi. Pada perangsangan H2 terjadi peningkatan sekresi gastrik, yang menyebabkan terjadinya tukak lambung.
Antagonis H1 biasanya diabsorbsi dengan baik di saluran cerna. Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam dan efeknya berakhir 4-6 jam. Walaupun demikian ada beberapa obat yang kerjanya lebih lama, misalnya klemastin, setirizin, terfenadin (12-24 jam), sedangkan astemizol 24 jam. Penelitian yang intensif pada obat pertama terbatas. Defenhidramin yang diberikan per oral mencapai kadar maksimum dalam darah kurang lebih 2 jam dengan waktu paruh 4 jam. Distribusi obat ini luas, termasuk di SSP dan dalam jumlah kecil dijumpai di dalam urine dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak dan dapat menginduksi enzim mikrosomal hepatik. Hal ini juga tampaknya sama pada obat generasi I lainnya. Sementara itu, obat generasi II, seperti astemizol, terfenadin, dan loratadin diabsorbsi secara cepat disaluran cerna dan dimetabolisme didalam hati melalui sistem mikrosomal hepatik P450.
DAFTAR PUSTAKA
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Efek samping eter amino alkil yaitu mengantuk. Etilendiamin efek smpingny penekan CNS dan Gastro intestinal dan propilamin efek smping tdak cndrung mmbuat ngantuk ttpi beberapa org mngalami efek ini.
BalasHapusTerimakasih
efek samping tambahan dari etilendiamin adalah seperti pada Aminofilin adalah jenis teofilin yang berikatan dengan suatu substantial kimia (etilendiamin) yang membuatnya menjadi lebih larut dengan air. yang mempunyai efek samping Saluran cerna : diare, mual dan muntah; Neurologi : pusing, sakit kepala, insomnia, dan tremor; Renal : diuresis
BalasHapusSaya akan menjawab nmr 4, Menurut saya. Bagian farmakofor nya terletak pada gugus dengan elektron bebas seperti nitrogen yg punya ikatan ionik, sehingga modifikasiny juga dapat dilakukan, dan juga terdapat pada karbon nya
BalasHapusMohon perncerahan lagi dari teman teman
menurut saya untuk pertanyaan no 3 penggunaan obat yang tidak sesuai baik dari dosisnya, cara pakainya, frekuensi pemakaian dan interval waktu pemakaiannya akan menimbulkan efek lain yang berlainan dari efek obat, baik efek tersebut diharapkan ataupun tidak. sebaiknya, penggunaan obat haruslah tepat dosis, tepat pasien, tepat cara pakai dan sebagainya
BalasHapussaya setuju dengan pendapat cindra karena penggunaan obat yang tidak sesuai akan akan menimbulkan efek yang tidak diharapkan maka dari itu sebaiknya dalam penggunaan obatnya sebaiknya harus tepat dosis, tepat rute, tepat pasien, tepat cara pakai dan tepat penanganannya
Hapussaya akan menjawab soal no 3, bagaimana jika penggunaannya tidak sesuai dengan dosis yang seharusnya, apabila dosis yang di berikan kurang maka efek terapi dari obat kurang juga, apabila dosis berlebih maka akan terjadi efek samping yang tidak di inginkan
BalasHapusmenjawab no 5, Obat-obat ini tidak menghalang-halangi pembentukan histamine pada reaksi antigen-antibody, melainkan masuknya histamine kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor) dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena antihistamin mengikat diri dengan reseptor-reseptor yang sebelumnya harus menerima histamin, maka zat ini dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang spesifik terhadap jaringan-jaringan.
BalasHapusefek samping dari Eter Amino Alkil yaitu mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pembantu tidur pada obat tanpa resep,efek samping dari Etilendiamin yaitu,penekanan CNS dan gastro intestinal,sedangkan efek samping pada Propilamin yaitu,cenderung tidak membuat mengantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, berdasarkan beberapa artikel yang saya baca efek samping dari eter amino dapat menyebabkan mengantuk, digunakan sebagai pembantu tidur, golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental, Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal, dan pada propilamin juga dapat menyebabkan ngantuk.
BalasHapus2. Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal.
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan no 2
BalasHapusefek samping Eter Amino Alkil, Etilendiamin, dan Propilamin yaitu eter amino dapat menyebabkan mengantuk, digunakan sebagai pembantu tidur, golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental, Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal, dan pada propilamin juga dapat menyebabkan ngantuk
Hai puji, jika penggunaan obat tidak sesuai yang seharusnya maka ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama obat tidak menunjukkan aktivitas atau efek terapinya. Kemungkinan kedua obat tersebut dapat menimbulkan efek samping yang merugikan.
BalasHapusnmr 3
BalasHapusAntihistamin atau penghambat H1, bersaing dengan histamin untuk menduduki reseptor, sehingga menghambat respon histamin. Penghambatan H1 disebut juga antagonis histamin. ada 2 tipe reseptor histamin, H1 dan H2, keduanya menyebabkan respon yang berbeda. Bila H1 dirangsang, otot-otot polos ekstravaskuler, termasuk otot-otot yang melapisi rongga hidung akan berkontriksi
Saya mau membantu menjawab soal no. 5 utk Turunan Eter Aminoalkil
BalasHapus• Pemasukan gugus Cl, Br dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik akan meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
• Pemasukan gugus CH3 pada posisi para cincin aromatik juga meningkatkan aktivitas tetapi pemasukan pada posisi orto akan menghilangkan efek antagonis H1 dan meningkatkan aktivitas antikolinergik.
hai puji, saya akan mecoba menjawab pertanyaan no 3. yaitu apabila penggunaan obat antihistamin tidak sesuai dengan dosisnya misal pada penggunaan obat astemizol pada dosis yang besar dapat menyebabkan aritmia ventrikuler. sehingga dengan demikian, penggunaan obat harus sesuai dosis yang dianjurkan.
BalasHapushai puji, saya akan membantu menjawab pertanyaan no 2. menurut sumber yang saya pelajari, Efek samping pemakaian obat-obat tersebut adalah mengantuk (eter amino alkil), trombositopenia, konstipasi, diarrhe, sakit kepala dan pusing.
BalasHapus3. jika antihistamin tidak digunakan sesuai dosis, jika dosis tinggi akan menyebabkan overdosis atau muculnys efek samping yg tidak diinginkn, sedangkan jika dosis kurang tentu saja efek terapi obat tidak akan tercapai
BalasHapusPertanyaan 4
BalasHapusefek samping tambahan dari etilendiamin adalah seperti pada Aminofilin adalah jenis teofilin yang berikatan dengan suatu substantial kimia (etilendiamin) yang membuatnya menjadi lebih larut dengan air. yang mempunyai efek samping Saluran cerna : diare, mual dan muntah; Neurologi : pusing, sakit kepala, insomnia, dan tremor; Renal : diuresis
penggunaan obat yang tidak sesuai akan akan menimbulkan efek yang tidak diharapkan maka dari itu sebaiknya dalam penggunaan obatnya sebaiknya harus tepat dosis, tepat rute, tepat pasien, tepat cara pakai dan tepat penanganannya
BalasHapus